Alangka Mengerikan Berebut Tahta

00.09

Hamka Mahmud*

Empat TA yakni harta, wanita, berita dan tahta jadi incaran buruan saat ini kaum bani Adam. Disemua level dan tingkatan. Har(ta) semua telah paham bagaimana ia siang malam diburu semua kalangan. Wani(ta), ia  telah jadi fitrah bagi semua pria jadi incaran. Beri(ta), bagaimana kita saksikan saat ini, banyak yang ingin diberitakan media agar terkenal.

Terakhir tah(ta), baru saja disimak di palagan pertempuran Rabu, 14 Februari 2024. Bagaimana ribuan orang yakni jumlah ditetapkan KPU 9.917 orang berebut kursi kosong 580 di DPR RI untuk masa jabatan 2024-2029. Juga ribuan orang yang berebut kursi DPRD kabupaten/kota dan provinsi. Serta berjejal orang bersaing ingin jadi senator dan tiga pasang insan berebut kursi empuk presiden dan wakil presiden.

Angka ribuan orang yang berebut kekuasaan tersebut adalah realitas dan potret. Bagaimana syahwat keinginan bertahta merasuki dan mendorong manusia berlomba mendudukinya. Pada hal, dampak buruk berebut jabatan sangatlah mengerikan. Hal ini diungkapkan analoginya oleh Nabi Muhammad ﷺ yaitu lebih parah karusakannya dari serigala yang mengincar dan berburu kambing. Mari direnungkan,

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ 

Dua serigala lapar yang dilepas menyerang sekawanan kambing, pengrusakannya tidak melebihi ambisi seseorang untuk memperoleh harta dan kemuliaan yang merusak agamanya. HR. Tirmidzi No 2298.

Penulis mencoba menganalisa dari analogi evek sergapan serigala pada kambing yang diungkap Nabi Muhammad ﷺ. Yakni jikalau serigala yang dicabik hanya tubuh kambing. Mungkin berjumlah satu atau dua ekor saja. Akan tatapi jika manusia berebut kekuasaan atau tahta. Jika merujuk dampak negatif dari contoh nyata berebutan tahta di Pemilu tanggal 14 Februari 2024 yakni:

1. Ribuan orang pada kontestasi Pemilu melanggar hadis nabi Nabi Muhammad ﷺ yakni menyogok agar dapat menduduki tahta. 

2. Ribuan orang melakukan dosa gibah kerena tahta (mencela lawan politiknya).

3. Ribuan orang terlibat dosa hasad  yakni dengki pada kompetitor.

4. Ribuan orang menyebar berita dusta karena benci pada lawan politiknya. Berita tak terverifikasi kebenarannya disebar. Ironisnya tak merasa berdosa.

5. Ribuan orang terlibat tolong menolong dalam perbuatan dosa. Seperti menjadi distributor dana sogokan caleg.

6. Marak pembuatan berita bohong karena ingin menjatuhkan saingan politik.

7. Hilangnya sifat jujur dan diganti dengan sifat dosa yakni berdusta demi kekuasaan.

8. Masyarakat terpecah belah sebab perbedaan dukungan. Pada hal agama melarang perpecahan.

9. Ritual syirik marak sebab ingin dibantu mistik agar raih jabatan.

10. Riba tumbuh subur, sebab untuk menyuplai dana kampanye. Jika menang baru kemudian dibayar. 

11. Ribuan orang terlilit utang dana kampanye. Pepatah mengatakan, "orang yang terlilit utang, merana di siang hari gelisah di malam hari".

12. Banyak orang raib asetnya yakni tanah dan rumah dijual. Sehingga ada ungkapan gelitik, "Habibi hanya dapat menerbangkan pesawat. Tapi caleg, sawah dan kebun ia dapat terbangkan."

13. Ribuan orang akan mengalami kekakalahan menyakitkan. Minimal hati mereka yang sakit. Entah sakit itu sesaat atau berdurasi lama.

14. Tumbuh suburnya janji-janji palsu demi untuk meraih tahta.

15. Muncul sosok-sosok penakut  dan pengecut tegakkan hukum pelanggar pemilu. Pada hal kuasa ia telah ia miliki.

16. Melahirkan pendukung fanatik buta dan bebal terhadap nasehat. Jika dinasehati tak bergeming dan cenderung pongah serta takabur.

Poin-poin di atas hanya sedikit yang diungkap dari banyaknya dampak buruk dan kerusakan akibat berebut kekuasaan. Dalam sejarah pernah diungkap seorang anak membunuh ayahnya karena ingin menduduki tahta. Dan ada yang bersaudara saling berperang demi raih tahta.

BERBURU TAHTA MERUGIKAN DIRI JIKA MERAIHNYA DENGAN CARA LANGGAR LARANGAN ALLAH ﷻ

*BY: Hamka Mahmud Seri 803. Kajian Dai Kamtibmas/Penyuluh Agama Islam Non PNS/DANI-Dai Anti Narkotika/DASI (Da'i Siber Indonesia) Doktor Bidang Dakwah Siber Polri. HP: 081285693559


Previous
Next Post »
0 Komentar