Menggunakaan Tentara Allah dalam Bertani | Kajian Da’I Kamtibmas Seri (18)

06.30
Dahulu ada seorang pentani teladan di kampung kami, Bernama H. Madda. Beliau taat dalam ibadah dan hero dalam pelestarian lingkungan yang lebih dahulu menerapkan padi organik, tidak menggunkan pestisida dan pupuk sistetis dalam bertani sekalipun belum pernah mendapatkan penghargaan dari pemerintah, mungkin tidak terpantau atau tidak ada yang mempromosikannya. Hampir seluruh masyarakat takzim dengan cara Beliau mengelola alam. 

Diantara cara beliau yang  unik dalam bertani :
  1. Setiap tahun Beliau mengomando anaknya yang lebih sepuluh orang ke kandang ternak masyarakat untuk mengumpulkan kotoran ternak kerbau dan sapi, maupun kuda untuk di angkut ke sawah-sawah yang Beliau garap agar agar jadi pupuk alami.
  2. Hampir seluruh sawah garapan Almarhum (Beliau telah meninggal beberapa tahun yang lalu), pasti di temukan kolam ikan ditengahnya, istilah orang bugis, "kalobeng". Yang ternyata tujuan dipadukannya budidaya ikan dan tanaman padi adalah ikan-ikan itulah yang memangsa hama padi, jadi Beliau menjadikan ikan sebagai bagian rantai makanan. Simbiosis mutualisme, seperti penemuan kami dulu ikan lele dapat memangsa jentik nyamuk di bak mandi. (Simak di Kajian Dai Kamtibmas seri 8)


Pernah suatu ketika ulama Kabupaten Pangkep bernama KH. Abd Hamid berucap kagum dengan metode bertani H. Madda, ia berkata" Anda itu haji, menggunakan tentara Allah dalam bertani, ikan-ikan itu tentara Allah membantu anda dalam menjaga tanaman padi Anda dari serbuan hama, caranya  ikan gabus dan betok itu loncat memankan hama yang ada di batang padi". Masya Allah.

sesuai firman Allah Qs. Al-fath 4.

وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

"Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" QS Al Fath : 4

Ada lagi tuturan keunikan cara bertani Beliau dari wawancara anaknya ketika saya berada di Manado bernama H. Musa Berkata " Hajiku itu, punya kebiasaan menadah/menampung air hujan yang biasanya turun di tengah-tengah kemarau, Hajiku meyakini bahwa itu bisa jadi racun alami atau penyubur alami tanaman, ketika di pakai menyiramkannya". "Oo,iyya ya, pantas biasa kami lihat Bapak Haji, menyiram-nyirap padinya, sebab sawahnya bertetanga dengan sawah kakek".ucap saya waktu itu, ketika bersilaturrahim ke rumah Beliau. Tiba-tiba dalam obrolan Haji Musa menangis, mengenang Ayahnya H. Madda, sambil berucap bagaimana hajiku dulu, menekankan kami semua anaknya yang lebih sepuluh untuk selalu shalat tepat waktu. Jika sudah masuk waktu shalat, kami disuruh berwudhu dan di imami Beliau shalat meskipun  di sawah. Itu kurasa pendidikan ayahku yang paling berkesan. Sangat menjaga shalat lima waktu. Sambil mengusap air mata Beliau, terkenang Ayah beliau tercinta.


JAGALAH PERINTAH ALLAH, TERUTAMA SHALAT LIMA WAKTU, MAKA DUNIA AKAN BERKHIMAT KEPADA ANDA.

Penulis : Hamka Mahmud

Previous
Next Post »
0 Komentar